Beruntung,
saya pernah mengenal tiga orang saleh, ketiganya tinggal di daerah
yang berbeda, sikap dan pandangan agamis mereka berbeda, dan jenis
kesalehan mereka pun berbeda. saleh pertama di klender, orang betawi
campuran arab. ia saleh, semata karena namanya. orang menyukainya karena
ia aktif siskamling meskipun bukan pada malam gilirannya. Orang kedua,
Haji Saleh Habib Farisi, orang jawa. agak aneh memang, Habib Farisi
sebuah nama jawa, ia saleh dalam arti sebenarnya, minimal kata para
jamaah masjid kampung itu, jenggotnya panjang, peci putihnya tak pernah
lepas, begitu juga sarung plekat abu2nya itu, tutur katanya lembut,
seperti mas danarto. ia cekatan memberi senyum pada orang lain.
Alasannya, " Senyum itu Sedekah ". Kepada anak kecil, ia sayang. Hobinya
mengusap kepala bocah-bocah yang selalu berisik pada saat sholat
jamaah berlangsung.....